Minggu 22 2014

Perkembangan Akuntansi Sektor Publik


Perkembangan akuntansi sektor publik di Indonesia – Penerapan Akuntansi Sektor Publik di Indonesia Salah satu bentuk penerapan teknik akuntansi sektor publik adalah di organisasi BUMN. Di tahun 1959 pemerintahan orde lama mulai melakukan kebijakan-kebijakan berupa nasionalisasi perusahaan asing yang ditransformasi menjadi Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Tetapi karena tidak dikelola oleh manajer profesional dan terlalu banyaknya ‘politisasi’ atau campur tangan pemerintah, mengakibatkan perusahaan tersebut hanya dijadikan ‘sapi perah’ oleh para birokrat. Sehingga sejarah kehadirannya tidak memperlihatkan hasil yang baik dan tidak menggembirakan.
Kondisi ini terus berlangsung pada masa orde baru. Lebih bertolak belakang lagi pada saat dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 1983 tentang fungsi dari BUMN. Dengan memperhatikan beberapa fungsi tersebut, konsekuensi yang harus ditanggung oleh BUMN sebagai perusahaan publik adalah menonjolkan keberadaannya sebagai agent of development daripada sebagai business entity. Terlepas dari itu semua, bahwa keberadaan praktik akuntansi sektor publik di Indonesia dengan status hukum yang jelas telah ada sejak beberapa tahun bergulir dari pemerintahan yang sah. Salah satunya adalah Perusahaan Umum Telekomunikasi (1989).

Deregulasi Akuntansi Sektor Publik Di Era Pra Reformasi - Krisis ekonomi dewasa ini telah membawa kita pada titik yang terburuk selama lebih dari 30 tahun. Dewasa ini kita menghadapi permasalahan yang bertumpuk-tumpuk. Ekonomi kita mengalami kontraksi yang besar dengan laju inflasi yang tinggi. Nilai tukar Rupiah jatuh, suku bunga tinggi.
Pengaruh kemarau yang berkepanjangan pada tahun 1997, berdampak negatif pada produksi bahan makanan, yang pada gilirannya kita harus mengimpor beberapa jenis bahan makanan dalam jumlah yang cukup besar. Kegiatan produksi tersendat-sendat dan ekspor hasil industri manufaktur menghadapi berbagai hambatan, antara lain, oleh karena kesulitan untuk mengimpor bahan baku dan suku cadang.
Sebabnya oleh karena hilangnya kepercayaan kepada perbankan nasional. Bank-bank dan perusahaan-perusahaan kita menghadapi masalah hutang yang berat baik di dalam maupun di luar negeri. Banyak industri telah mengurangi kegiatannya, bahkan ada yang telah menghentikannya. Oleh karena itu telah terjadi pemutusan hubungan kerja yang pada gilirannya telah menyebabkan meningkatnya jumlah pengangguran. Peningkatan jumlah pengangguran yang berlangsung bersamaan dengan meningkatnya laju inflasi telah mengakibatkan jumlah penduduk miskin mengalami peningkatan yang sangat besar.
Sementara itu kontraksi dalam kegiatan ekonomi dan anjloknya harga migas di satu pihak dihadapkan dengan upaya untuk mengurangi dampak negatif terhadap penduduk berpendapatan rendah di lain pihak pada gilirannya telah menyebabkan meningkatnya defisit dalam APBN. Tingkat kepercayaan (confidence) masyarakat yang masih rendah, tercermin pada kurs Rupiah yang belum stabil, walaupun selama bulan Agustus 1998 terlihat adanya kecenderungan makin menguatnya Rupiah, berkonsekuensi terhadap peningkatan harga-harga serta terhambatnya kegiatan produksi dan investasi di dalam negeri.
Sejalan dengan tuntutan reformasi dan demokratisasi di segala bidang, kebijakan pemerintah di bidang hubungan keuangan pusat daerah juga mengalami reformasi, dan secara bertahap akan terus disempurnakan sesuai dengan perkembangan zaman. Arah reformasi hubungan keuangan Pusat dan Daerah adalah untuk meningkatkan kinerja pengelolaan keuangan negara dan daerah serta meningkatkan akuntabilitas publik. Reformasi dimaksud meliputi pengaturan dana perimbangan, pajak dan retribusi daerah, pinjaman daerah, serta pengelolaan keuangan daerah.
Genderang reformasi telah ditabuh secara serentak oleh segenap lapisan masyarakat sejak tahun 1997. Kejatuhan maskapai penerbangan Orde Baru dari pucuk pimpinan Negara Kesatuan Republik Indonesia memberikan harapan besar untuk masyarakat Indonesia segera terbangunnya iklim berorganisasi yang sehat dengan berbasiskan “good governance” dalam rangka memakmurkan dan mensejahterahkan serta mencerdaskan Rakyat Indonesia. Dalam perjalanannya, reformasi dengan berbasiskan good governance untuk membangun Indonesia Baru ternyata banyak sekali kendala dan batasan-batasan yang kita miliki terutama berada dalam aspek hukum baik penciptaan hukum maupun penegakkan hukum itu sendiri.
Pada era reformasi, masyarakat di sebagian besar wilayah Indonesia, baik di propinsi, kota maupun kabupaten mulai membahas laporan pertanggungjawaban kepala daerah masing-masing dengan lebih seksama. Beberapa kali terjadi pernyataan ketidakpuasan atas kepemimpinan kepala daerah dalam melakukan manajemen pelayanan publik maupun penggunaan anggaran belanja daerah.
Melihat pengalaman di negara-negara maju, ternyata dalam pelaksanaannya, keingintahuan masyarakat tentang akuntabilitas pemerintahan tidak dapat dipenuhi hanya oleh informasi keuangan saja. Masyarakat ingin tahu lebih jauh apakah pemerintah yang dipilihnya telah beroperasi dengan ekonomis, efisien dan efektif.
Sesuai dengan literatur good governance, perangkat hukum dan penegakkan hukum adalah prasyarat terbangunnya suatu good governance.Dengan segala hambatan dan keterbatasan yang kita miliki, semangat untuk membangun Indonesia Baru dengan berbasiskan good governance masih terus hidup hampir di segenap organisasi apakah itu organisasi Pemerintah maupun organisasi non Pemerintah.
Dalam perspektif keuangan khususnya Institusi Pemerintah, reformasi sudah mulai dibangun dengan dikeluarkannya beberapa landasan hukum, pengenalan perangkat tehnologi untuk mempercepat proses organisasi, dan pengenalan serta kewajiban untuk menerapkan sistim organisasi dengan berbasiskan good governance kepada institusi Pemerintah. Perubahan total dalam proses dan struktur serta “content-isi” penganggaran pemerintah-APBN dan APBD serta Akuntansi merupakan 2 (dua) produk utama untuk membangun sistim organisasi yang berbasiskan good governance. Namun demikian, 2 (dua) produk reformasi keuangan ini akan tidak optimal jika tidak di imbangi oleh kesiapan sumber daya manusianya untuk menerima dan mengimplemen tasikan produk reformasi keuangan tersebut.
Disamping kesiapan dan kompetensi serta didukung oleh budaya organisasi yang kondusif, faktor kualitas pelaporan organisasi juga harus mampu di bangun untuk melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap sistim organisasi berbasiskan good governance. Dengan sistim pelaporan yang efektif maka pengelolaan sumber daya organisasi khususnya sumber daya ekonomi dapat dipertanggungjawabkan secara adil dan terbuka.
Sebagaimana kita ketahui bahwa Pemerintah telah mengeluarkan Undang-Undang No.22 thn 1999 tentang Pemerintahan Daerah dimana dalam pasal 30 disebutkan bahwa “setiap daerah dipimpin oleh seorang kepala daerah sebagai kepala eksekutif yang dibantu oleh seorang wakil kepala daerah”. Selanjutnya dalam pasal 44 ayat 3 dinyatakan bahwa “kepala daerah wajib menyampaikan laporan atas penyelenggaraan Pemerintahan daerah kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri dengan tembusan kepada Gubernur bagi Kepala daerah Kabupaten dan Kepala daerah Kota, sekurang kurangnya sekali dalam setahun, atau jika dipandang perlu oleh Kepala Daerah atau apabila diminta oleh Presiden”.
Dari pernyataan Undang-Undang No.22 than 1999 dalam pasal 22 dan 44 diatas, secara tegas dapat dilihat bahwa Para Eksekutif Daerah diharuskan untuk membuat sebuah laporan yang memuat bagaimana mereka menyelenggarakan Pemerintahannya.
Dengan kata lain para Eksekutif Daerah harus membuat sebuah laporan untuk mempertanggungjawabkan kinerjanya setiap tahun dalamhal penyelenggaraan Pemerintahan. Selanjutnya Pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia mengeluarkan Peraturan Pemerintah No.105 tahun 2000 mengenai pertanggungjawaban keuangan daerah sebagai tindak lanjut atas telah dikeluarkannya Undang-undang No.22 tahun 1999 tentang Pemerintahan daerah.
Dalam pasal 37 Peraturan Pemerintah No.105 ini secara tegas disebutkan bahwa Kepala daerah harus mempertanggungjawabkan Keuangan Daerah kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (selanjutnya disingkat DPRD). Untuk memaparkan secara jelas sehingga tidak terjadi kebingungan komunikasi antara Kepala Daerah dan DPRD maka laporan keuangan yang dimaksud dalam pertanggungjawaban adalah terdiri dari 4 (empat) laporan yaitu: Laporan Perhitungan APBD, Nota Perhitungan APBD, Laporan Aliran Kas, dan Neraca. Hal ini bisa dilihat dalam pasal 38 yang menyatakan bahwa “kepala daerah menyusun pertanggungjawaban keuangan daerah yang terdiri dari laporan perhitungan APBD, nota perhitungan APBD, laporan arus kas, dan neraca daerah”.
Selain 2 (dua) perangkat hukum diatas yang mengatur laporan pertanggungjawaban pengelolaan keuangan daerah; Kepala Daerah juga harus membuat suatu laporan untuk mempertanggungjawabkan pengelolaan DAU – Dana Alokasi Umum dan DAK – Dana Alokasi Khusus termasuk pinjaman daerah kepada Pemerintah Pusat (lihat PP No.106 thn 2000 pasal 7 dan 12; dan PP No.11 thn 2001 pasal 2). enyadari akan keterbatasan sumber daya manusia yang ada di daerah maka Pemerintah Pusat dalam hal ini Departemen Dalam Negeri telah mengeluarkan Keputusan Pemerintah Dalam Negeri No.29 tahun 2002 tentang Pedoman Pengurusan, Pertanggungjawaban dan Pengawasan Keuangan Daerah serta Tata Cara Penyusunan APBD, Pelaksanaan Tata Usaha Keuangan Daerah dan Penyusunan Perhitungan APBD.
Dengan segala keterbatasannya, KepMen No.29 thn 2002 ini merupakan bentuk kepedulian Pemerintah Pusat betapa penting laporan pertanggungjawaban keuangan Pemerintah Daerah segera di realisasikan melalui pemberian pedoman bagaimana sistim dan prosedur Akuntansi dan Keuangan Pemerintahan daerah bisa dibuat.
Seiring dengan telah dikeluarkannya berbagai perangkat hukum diatas, sebenarnya Ikatan Akuntan Indonesia telah memberikan respon yang elegan dengan membentuk kompartemen baru yaitu Kompartemen Akuntansi Sektor Publik. Melalui wadah kompartemen akuntansi sektor publik ini, perkembangan organisasi profesi sektor publik khususnya akuntansi sektor publik mulai menunjukkan titik terang.
Meskipun sedikit terlambat akibat begitu dinamisnya lingkungan maupun struktur organisasi profesi sektor publik, sebuah Draft Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintah (selanjutnya disingkat PSAP) telah dikeluarkan sebagaimana telah kita nantikan selama ini.
Negara Kesatuan Republik Indonesia telah melakukan sebuah Reformasi Akuntansi sebagaimana dapat dilihat dalam gambar dibawah ini, dimulai melalui Perangkat hukum yang jelas yang diikuti oleh sebuah Standar Akuntansi Pemerintah sebagai acuan dasar terbentuknya sebuah laporan keuangan yang memiliki prinsip-prinsip adil, terbuka, dan dapat dipertanggungjawabkan kepada semua pihak.
Pelaksanaan otonomi daerah di Indonesia pada tahun 2001 memunculkan jenis akuntabilitas baru, sesuai dengan UU Nomor 22 Tahun 1999 dan UU Nomor 25 Tahun 1999. Dalam hal ini terdapat tiga jenis pertanggungjawaban keuangan daerah yaitu (1) pertanggungjawaban pembiayaan pelaksanaan dekonsentrasi, (2) pertanggungjawaban pembiayaan pelaksanaan pembantuan, dan (3) pertanggungjawaban anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD).
Sementara di tingkat pemerintah pusat, pertanggungjawaban keuangan tetap dalam bentuk pertanggungjawaban anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN). Saat ini di Indonesia sedang dilakukan persiapan penyusunan suatu standar akuntansi pemerintahan yang lebih baik serta pembicaraan yang intensif mengenai peran akuntan publik dalam memeriksa keuangan negara maupun keuangan daerah.
Namun tampak bahwa akuntabilitas pemerintahan di Indonesia masih berfokus pada sisi pengelolaan keuangan negara atau daerah.
Pembaharuan manajemen keuangan daerah di era otonomi daerah ini, ditandai dengan perubahan yang sangat mendasar, mulai dari sistem pengganggarannya, perbendaharaan sampai kepada pertanggungjawaban laporan keuangannya. Sebelum bergulirnya otonomi daerah, pertanggungjawaban laporan keuangan daerah yang harus disiapkan oleh Pemerintah Daerah hanya berupa Laporan Perhitungan Anggaran dan Nota Perhitungan dan sistem yang digunakan untuk menghasilkan laporan tersebut adalah MAKUDA (Manual Administrasi Keuangan Daerah) yang diberlakukan sejak tahun 1981.
Dengan bergulirnya otonomi daerah, laporan pertanggungjawaban keuangan yang harus dibuat oleh Kepala Daerah adalah berupa Laporan Perhitungan Anggaran, Nota Perhitungan, Laporan Arus Kas dan Neraca Daerah. Kewajiban untuk menyampaikan laporan keuangan daerah ini diberlakukan sejak 1 Januari 2001, tetapi hingga saat ini pemerintah daerah masih belum memiliki standar akuntansi pemerintahan yang menjadi acuan di dalam membangun sistem akuntansi keuangan daerahnya.
Kedua jenis laporan terakhir yaitu neraca daerah dan laporan arus kas tidak mungkin dapat dibuat tanpa didasarkan pada suatu standar akuntansi yang berterima umum di sektor pemerintahan. Standar akuntansi pemerintahan inilah yang selalu menjadi pertanyaan bagi pemerintah daerah, karena bagaimana mungkin suatu laporan neraca daerah dapat disusun tanpa didasarkan suatu standar akuntansi. Pertanyaan lain yang juga muncul adalah apakah standar akuntansi pemerintahan ini harus mengacu sepenuhnya kepada praktek-praktek akuntansi yang berlaku secara internasional ? Pemerintah Daerah masih banyak yang ragu dalam menerapkan suatu sistem akuntansi keuangan daerah karena ketiadaan standar, walaupun dalam penjelasan pasal 35 PP 105/2000 disebutkan bahwa sepanjang standar dimaksud belum ada, dapat digunakan standar yang berlaku saat ini. Lebih lanjut, dalam pasal-pasal lainnya disebutkan bahwa kewenangan untuk menyusun sistem dan prosedur akuntansi sepenuhnya merupakan kewenangan daerah, yaitu :
·Pasal 14 ayat (1) menetapkan bahwa keputusan tentang pokok-pokok pengelolaan keuangan daerah diatur dengan Peraturan Daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
·Pasal 14 ayat (3) menetapkan bahwa sistem dan prosedur pengelolaan keuangan daerah diatur dengan Keputusan Kepala Daerah sesuai dengan Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)

Akuntasi Sektor Publik


Pengertian dan Ruang Lingkup Akuntansi Sektor Publik

1. Pengertian dan Ruang Lingkup Akuntansi Sektor Publik

Akuntansi sektor publik adalah sistem akuntansi yang dipakai oleh lembaga-lembaga publik sebagai salah satu alat pertanggung jawaban kepada publik. Sekarang terdapat perhatian yang makin besar terhadap praktek akuntansi yang dilakukan oleh lembaga-lembaga publik, baik akuntansi sektor pemerintahan maupun lembaga publik nonpemerintah. Lembaga publik mendapat tuntutan dari masyarakat untuk dikelola secara transparan dan bertanggung jawab.
Organisasi sektor publik menghadapi tekanan untuk lebih efisien, memperhitungkan biaya ekonomi dan biaya sosial dan memanfaatkannya bagi publik, serta dampak negatif atas aktivitas yang dilakukan. Berbagai tuntutan tersebut menyebabkan akuntansi dapat diterima sebagai ilmu yang dibutuhkan untuk mengelola urusan-urusan publik. Akuntansi sektor publik sedang mengalami proses untuk menjadi disiplin ilmu yang lebih dibutuhkan.

Sektor publik adalah manajemen keuangan yang berasal dari publik sehingga menimbulkan konsekuensi untuk dipertanggung jawabkan kepada publik. Dengan demikian, pengelolaannya memerlukan keterbukaan dan akuntabilitas terhadap publik.

Ruang lingkup akuntansi sektor publik meliputi badan-badan pemerintahan (pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan unit-unit kerja pemerintah), organisasi sukarelawan, rumah sakit, perguruan tinggi dan universitas, yayasan, lembaga swadaya masyarakat, organisasi keagamaan, organisasi politik, dan sebagainya.

Sistem akuntansi untuk badan-badan pemerintahan harus mengikuti standar akuntansi pemerintah (SAP) seperti dimaksud dalam undang-undang nomor 17 tahun 2003 pasal 32, undang-undang nomor 1 tahun 2004 pasal 51 ayat 3, dan peraturan pemerintah nomor 24 tahun 2005. Di sisi lain, unit-unit pemerintah yang bergerak di bidang bisnis (BUMN dan BUMD) harus mengikuti standar akuntansi keuangan yang dikeluarkan oleh IAI (ikatan akuntansi Indonesia). Sementara itu, organisasi publik non pemerintahan mengikuti standar akuntansi keuangan.

2. Sifat dan Karakteristik Sektor Publik

Akuntansi sektor publik diarahkan untuk mencapai hasil tertentu yang harus memiliki manfaat bagi publik. Dalam beberapa hal akuntansi sektor publik berbeda dengan sektor swasta karena adanya perbedaan linkungan yang mempengaruhi. Sifat dan karakteristik organisasi sektor publik terutama adalah tujuan, sifat, dan sumbe dananya. Sifat organisasi sektor publik adalah organisasi nonlaba. Tujuannya hanyalah memberikan pelayanan kepada masyarakat dan meningkatkan kesejahteraannya.

Organisasi sektor publik bergerak dalam lingkungan yang sangat kompleks. Komponen lingkungan yang mempengaruhi sektor publik meliputi faktor ekonomi, politik, kultur, dan demografi.

3. Perbedaan dan Persamaan Sektor Publik dan Sektor Komersial

Perbedaan sifat dan karakteristik sektor publik dengan sektor komersial dapat dilihat dengan membandingkan beberapa hal yakni tujuan organisasi, sumber pembiayaan, pertanggung jawaban, struktur organisasi, karakteristik anggaran, dan akuntansi keuangan.

Tujuan sektor publik adalah memberi pelayanan kepada masyarakat dan mensejahterakan masyarakat. Misalnya pelayanan dalam bidang pendidikan, keamanan, kesehatan masyarakat, penegakan hukum, transportasi publik, penyediaan barang kebutuhan masyarakat dan sebagainya. Sementara itu, sektor komersial bertujuan mencari laba untuk meningkatkan kesejahteraan pemegang saham.

Sektor publik memperoleh biaya dari pajak, retribusi, laba BUMN dan BUMD, pinjaman luar negeri, obligasi, sumbangan, dana abadi, hibah, dan lainnya. Sedangkan sektor komersial memperoleh biaya dari modal pemilik dan laba yang ditahan, utang bank, obligasi, dan penerbitan saham baru.

Sektor publik dan sektor komersial memiliki persamaan, dimana keduanya adalah bagian yang saling berhubungan dari sistem ekonomi negara, dan sumber daya yang sama untuk mencapai tujuan organisasi. Keduanya juga mengahadapi masalah yang sama yaitu kelangkaan sumber daya sehingga harus menggunakannya secara efektif dan efisien. Selain itu, keduanya memiliki manajemen yang sama, produk yang sama, dan sama-sama terikat pada aturan yang berlaku.

Referensi

Renyowijoyo, Muindro. 2010. Akuntansi Sektor Publik: Organisasi Non Laba. Jakarta: Mitra Wacana Media.

Nordiawan, Deddi. 2006. Akuntansi Sektor Publik. Jakarta: Salemba Empat.

Minggu 15 2014

9.31


9-31                a.         Acceptable audit risk A measure of how willing the auditor is to accept that the financial statements may be materially misstated after the audit is completed and an unqualified opinion has been issued. This is the risk that the auditor will give an incorrect audit opinion.

Inherent risk A measure of the auditor's assessment of the likelihood that there are material misstatements in a segment before considering the effectiveness of internal control. This risk relates to the auditor's expectation of misstatements in the financial statements, ignoring internal control.

Control risk A measure of the auditor's assessment of the likelihood that misstatements exceeding a tolerable amount in a segment will not be prevented or detected by the client's internal controls. This risk is related to the effectiveness of a client's internal controls.


9-31 (continued)

Planned detection risk  A measure of the risk that audit evidence for a segment will fail to detect misstatements exceeding a tolerable amount, should such misstatements exist. In audit planning, this risk is determined by using the other three factors in the risk model using the formula PDR = AAR / (IR x CR).

            b.

                                                                1             2             3              4           5             6   
            Acceptable Audit Risk         .05          .05          .05           .05        .01          .01
            IR x CR                                1.00          .24          .24           .06      1.00          .24
            PDR = AAR / (IR x CR)        .05       .208       .208         .833        .01       .042
            Planned Detection Risk
            in percent                             5%    20.8%    20.8%    83.3%       1%      4.2%

            c.

1.         Decrease; Compare the change from situation 1 to 5.
2.         Increase;  Compare the change from situation 1 to 2.
3.         Increase;  Compare the change from situation 1 to 2.
4.         No effect; Compare the change from situation 2 to 3.

                        d.         Situation 5 will require the greatest amount of evidence because the planned detection risk is smallest. Situation 4 will require the least amount of evidence because the planned detection risk is highest. In comparing those two extremes, notice that acceptable audit risk is lower for situation 5, and both control and inherent risk are considerably higher.

9.25


9-25    a.         The justification for a lower preliminary judgment about materiality for overstatements is directly related to legal liability and audit risk. Most auditors believe they have a greater legal and professional responsibility to discover overstatements of owners' equity than understatements because users are likely to be more critical of overstatements. That does not imply there is no responsibility for understatements.
            b.         There are two reasons for permitting the sum of tolerable misstatements to exceed overall materiality. First, it is unlikely that all accounts will be misstated by the full amount of tolerable misstatement. Second, some accounts are likely to be overstated while others are likely to be understated, resulting in net misstatement that is likely to be less than overall materiality.
            c.         This results because of the estimate of sampling error for each account. For example, the likely estimate of accounts receivable is an understatement of $7,500 + or - a sampling error of $11,500. You would be most concerned about understatement for accounts receivable because the estimated understatement of $19,000 exceeds the tolerable misstatement of $18,000 for that account.
            d.         You would be most concerned about understatement amounts since the total estimated understatement amount ($30,000) exceeds the preliminary judgment about materiality for understatements ($20,000). You would be most concerned about accounts receivable given that the total misstatement for that account exceeds tolerable misstatement for understatement.

Minggu 08 2014

Standar Atestasi


Atestasi (attestation) adalah suatu pernyataan pendapat atau pertimbangan yang diberikan oleh seorang yang independen dan kompeten yang menyatakan apakah asersi (assertion) suatu entitas telah sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. Asersi adalah suatu pernyataan yang dibuat oleh satu pihak yang dimaksudkan untuk digunakan oleh pihak lain, contoh asersi dalam laporan keuangan historis adalah adanya pernyataan manajemen bahwa laporan keuangan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum.
Standar atestasi membagi tiga tipe perikatan atestasi (1) pemeriksaan (examination), (2) review, dan (3) prosedur yang disepakati (agreed-upon procedures).
Salah satu tipe pemeriksaan adalah audit atas laporan keuangan historis yang disusun berdasarkan prinsip akuntansi yang berlaku umum. Pemeriksaan tipe ini diatur berdasarkan standar auditing. Tipe pemeriksaan lain, misalnya pemeriksaan atas informasi keuangan prospektif, diatur berdasarkan pedoman yang lebih bersifat umum dalam standar atestasi. Standar atestasi ditetapkan oleh Institut Akuntan Publik Indonesia.

Standar umum[sunting | sunting sumber]

  1. Audit harus dilaksanakan oleh seseorang atau lebih yang memiliki keahlian dan pelatihan teknis yang cukup sebagai auditor
  2. Dalam segala hal yang berhubungan dengan penugasan, independensi dalam sikap mental harus dipertahankan oleh auditor
  3. Dalam pelaksanaan audit dan penyusunan laporannya, auditor wajib menggunakan kemahiran profesionalnya dengan cermat dan seksama

Standar pekerjaan lapangan[sunting | sunting sumber]

  1. Pekerjaan harus direncanakan sebaik-baiknya dan jika digunakan asisten harus disupervisi dengan semestinya
  2. Pemahaman yang memadai atas struktur pengendalian intern harus diperoleh untuk merencanakan audit dan menentukan sifat, saat dan lingkup pengujian yang akan dilakukan
  3. Bukti audit kompeten harus diperoleh melalui inspeksi, pengamatan, pengajuan pertanyaan, dan konfirmasi sebagai dasar yang memadai untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan auditan

Standar pelaporan[sunting | sunting sumber]

  1. Laporan audit harus menyatakan apakah laporan keuangan telah disusun sesuai dengan prinsip akuntansi berlaku umum
  2. Laporan audit harus menunjukkan keadaan yang didalamnya prinsip akuntansi tidak secara konsisten diterapkan dalam penyusunan laporan keuangan perioda berjalan dalam hubungannya dengan prinsip akuntansi yang diterapkan dalam perioda sebelumnya
  3. Pengungkapan informatif dalam laporan keuangan harus dipandang memadai kecuali dinyatakan lain dalam laporan audit
  4. Laporan audit harus memuat suatu pernyatan pendapat mengenai laporan keuangan secara keseluruhan atau suatu asersi bahwa pernyatan demikian tidak dapat diberikan

Selasa 03 2014

Comparison Criteria

Comparison criteria are the most commonly used criteria to extract or analyze information from a Microsoft Excel database. The value that you place under the column heading in your criteria range is compared against the records in your database. If a record matches that value, the record is extracted or included in the group of records to be analyzed by the database functions. 


To create a sample database and a sample criteria range, follow these steps:
  1. Open a new workbook.
  2. Type the following information in cells A1:C25 of a new worksheet:
          |       A      |   B     |   C
       ---|--------------|---------|--------
        1 | Type of Soda |Month    |Consumed
        2 | Pepup        |January  |     946
        3 | Diet Pepup   |January  |     762
        4 | Colo         |January  |     224
        5 | Diet Colo    |January  |       1
        6 | Splash       |January  |     715
        7 | Diet Splash  |January  |     506
        8 | Lime-Up      |January  |     354
        9 | Diet Lime-Up |January  |     542
        10| Pepup        |February |     910
        11| Diet Pepup   |February |     894
        12| Colo         |February |     926
        13| Diet Colo    |February |     471
        14| Splash       |February |     493
        15| Diet Splash  |February |     276
        16| Lime-Up      |February |      45
        17| Diet Lime-Up |February |     301
        18| Pepup        |March    |     840
        19| Diet Pepup   |March    |     442
        20| Colo         |March    |     409
        21| Diet Colo    |March    |     205
        22| Splash       |March    |     109
        23| Diet Splash  |March    |     263
        24| Lime-Up      |March    |     603
        25| Diet Lime-Up |March    |     555
         
  3. Select cells A1:C25.
  4. On the Insert menu, point to Name, and then click Define.
  5. Type Database, and then click OK.
  6. For the sample criteria range, type the following data in cells E1:G1 of the worksheet:
          |       E      |  F   |   G
       ---|--------------|------|--------
        1 | Type of Soda |Month |Consumed
        2 |              |      |
    
         
  7. Select cells E1:G2.
  8. On the Insert menu, point to Name, and then click Define.
  9. Type Criteria, and then click OK.

In a One-Input Table

To find the cost of soda consumed per type the entire period, create a one-input table that uses the data from the database:
  1. In cells E5:E12, type the different kinds of soda. (Because you enter this variable data in a column, this is a column input table).

    NOTE: You can copy the types from the database and paste them into the cells.
  2. In cell F4, type the formula:
    =DSUM(Database,"Consumed",Criteria)*0.45
    NOTE: This formula adds all the consumed sodas in the database that match the specified criteria, and multiplies the result by 45 cents (the cost per can).
  3. Select cells E4:F12.
  4. On the Data menu, click Table.
  5. In the Column Input Cell box, type E2.

    NOTE: E2 is the cell in the criteria range where you would type the name of a specific type of soda. Because you want to substitute different types of soda to calculate the expense for each type, leave cell E2 blank in the actual criteria. The table automatically (internally) substitutes each soda type that is listed in the table (E4:E12) into cell E2, and calculates the formula based on that criteria.
One-Input table with data from database (with formulas displayed)
=================================================================

      |       E       |                    F
   ---|---------------|----------------------------------------
    4 | First Quarter |=DSUM(Database,"Consumed",Criteria)*0.45
    5 | Pepup         |=TABLE(,E2)
    6 | Diet Pepup    |=TABLE(,E2)
    7 | Colo          |=TABLE(,E2)
    8 | Diet Colo     |=TABLE(,E2)
    9 | Splash        |=TABLE(,E2)
    10| Diet Splash   |=TABLE(,E2)
    11| Lime-Up       |=TABLE(,E2)
    12| Diet Lime-Up  |=TABLE(,E2)


One-Input table with data from database (with values displayed)
===============================================================

      |       E       |           F
   ---|---------------|------------------------
    4 | First Quarter |Money Spent on Beverages
    5 | Pepup         |               $1,213.20
    6 | Diet Pepup    |                 $944.10
    7 | Colo          |                 $701.55
    8 | Diet Colo     |                 $304.65
    9 | Splash        |                 $592.65
    10| Diet Splash   |                 $470.25
    11| Lime-Up       |                 $450.90
    12| Diet Lime-Up  |                 $629.10

    
The value displayed in cell F4 is a number format. To duplicate this value, follow these steps:
  1. Select cell F4.
  2. On the Format menu, click Cells.
  3. Click the Number tab.
  4. In the Category list, click Custom.
  5. In the Type box, type "Money Spent on Beverages" (with the quotation marks).
  6. Click OK.

In a Two-Input Table

For the following example, use the sample database and criteria that you created earlier. To create a two-input table and use it to find the cost of soda consumed per type per month, follow these steps:
  1. In cells E15:E22, type the different types of soda. (This represents the column input.)

    NOTE: You can copy the types from the database and paste them into the cells.
  2. Type January in cell F14, type February in cell G14, and type March in cell H14.
  3. In cell E14, type the formula:
    =DSUM(Database,"Consumed",Criteria)*0.45
    NOTE: This formula adds all the consumed sodas in the database based on the criteria, and multiplies the total by 45 cents (cost per can).
  4. Select cells E14:H22.
  5. On the Data menu, click Table.
  6. In the Row Input Cell box, type F2. In the Column Input Cell box, type E2.

    NOTE: Because you want to calculate the expenses for each type of soda for each month, and do not want to limit your expense analysis to one particular month, leave F2 blank in the defined criteria range. F2 is the cell in the criteria range where you would type the name of a specific month. The table automatically (internally) substitutes each month that is listed in the table (F14:H14) into cell F2, and calculates the formula based on that month.

    Because you want to calculate the expense for each type of soda, leave E2 blank in the actual criteria. E2 is the cell in the criteria range where you would type the name of a specific type of soda. For example, if you wanted to calculate the expense for your diet sodas, you would place the word "diet" in cell E2. The table automatically (internally) substitutes each soda type that is listed in the table (E15:E22) into cell E2 and calculates the formula based on that type.
Two-input table with data from database (with formulas displayed)
=================================================================

NOTE: Due to screen display limitations, the following four-column table is 
shown in two parts.

(Left column of a four-column table.)

      |                    E
   ---|-----------------------------------------
    14| =DSUM(Database,"Consumed",Criteria)*0.45
    15| Pepup
    16| Diet Pepup
    17| Colo
    18| Diet Colo
    19| Splash
    20| Diet Splash
    21| Lime-Up
    22| Diet Lime-Up

(Right three columns of a four-column table.)

      |       F       |      G       |      H
   ---|---------------|--------------|-------------
    14| January       |February      |March
    15| =TABLE(F2,E2) |=TABLE(F2,E2) |=TABLE(F2,E2)
    16| =TABLE(F2,E2) |=TABLE(F2,E2) |=TABLE(F2,E2)
    17| =TABLE(F2,E2) |=TABLE(F2,E2) |=TABLE(F2,E2)
    18| =TABLE(F2,E2) |=TABLE(F2,E2) |=TABLE(F2,E2)
    19| =TABLE(F2,E2) |=TABLE(F2,E2) |=TABLE(F2,E2)
    20| =TABLE(F2,E2) |=TABLE(F2,E2) |=TABLE(F2,E2)
    21| =TABLE(F2,E2) |=TABLE(F2,E2) |=TABLE(F2,E2)
    22| =TABLE(F2,E2) |=TABLE(F2,E2) |=TABLE(F2,E2)


Two-input table with data from database (with values displayed)
===============================================================

      |       E        |    F   |    G    |   H
   ---|----------------|--------|---------|--------
    14| Cost per Month |January |February |March
    15| Pepup          |$425.70 | $409.50 | $378.00
    16| Diet Pepup     |$342.90 | $402.30 | $198.90
    17| Colo           |$100.80 | $416.70 | $184.05
    18| Diet Colo      |  $0.45 | $211.95 |  $92.25
    19| Splash         |$321.75 | $221.85 |  $49.05
    20| Diet Splash    |$227.70 | $124.20 | $118.35
    21| Lime-Up        |$159.30 |  $20.25 | $271.35
    22| Diet Lime-Up   |$243.90 | $135.45 | $249.75

    
The value displayed in cell E14 is a number format. To duplicate this value, follow these steps:
  1. Select cell E14.
  2. On the Format menu, click Cells.
  3. Click the Number tab.
  4. In the Category list, click Custom.
  5. In the Type box, type "Cost per Month" (with the quotation marks).
  6. Click OK.

Computed Criteria

You can also use computed criteria in one-input and two-input tables to obtain and analyze values from a database. Computed criteria use a formula to extract or obtain values for analysis.

When you use computed criteria, be aware of the following:
  • The field name of the computed criteria must be a label other than a field name in the database (or you can leave it blank). In the example, cell H1 is blank; it could contain the word "month" or "formula" or any other text, as long as it is not the name of a field in your database.
  • In the formula that uses the computed criteria, you must use a relative reference to the first record in the field of the database that you want to reference. In the following example, the formula contains a relative reference to cell B2 in the formula =MONTH(B2)=MONTH($H$3).
  • In most cases, any other references in the computed criteria must be absolute. In the following example, the formula contains an absolute reference to cell H3 in the formula =MONTH(B2)=MONTH($H$3).
For the following examples, you must create a sample database and a sample criteria range. To create a sample database, type the following information in cells A1:C15 of a new worksheet:
      |    A      |    B    |     C
   ---|-----------|---------|------------
    1 | Product # |Date     |Amount Sold
    2 |       9865|   1/2/90|          91
    3 |       9870|  1/12/90|          94
    4 |       9875|  1/22/90|          76
    5 |       9880|   2/1/90|          22
    6 |       9865|  2/11/90|          82
    7 |       9870|  2/21/90|          71
    8 |       9870|   3/3/90|          50
    9 |       9865|  3/13/90|          35
    10|       9880|  3/23/90|          54
    11|       9875|   4/2/90|          80
    12|       9865|  4/12/90|          33
    13|       9880|  4/22/90|          83
    14|       9875|   5/2/90|          62
    15|       9870|  5/12/90|          15
    
Follow these steps to define the database name and set a criteria:
  1. Select cells A1:C15.
  2. On the Insert menu, point to Name, and then click Define.
  3. Type Database, and then click OK.
  4. Select cells E1:H2.
  5. On the Insert menu, point to Name, and then click Define.
  6. Type Criteria, and then click OK.
      |     E     |  F  |      G      |          H
   ---|-----------|-----|-------------|---------------------
    1 | Product # |Date |Amount Sold  |
    2 |           |     |             |=MONTH(B2)=MONTH($H$3)

The formula =MONTH(B2)=MONTH($H$3) returns a value of either TRUE or
FALSE, which is displayed in H2:

      |     E     |  F  |      G      |    H
   ---|-----------|-----|-------------|---------
    1 |Product #  |Date |Amount Sold  |
    2 |                                  TRUE
    

In a One-Input Table

If you want to find out how many items were sold each month, how many days a sale was made, and the maximum number of items sold on one day in each month, create a one-input table from this data, as follows:
  1. Type the following data in cells E6:E10:
          |     E     
       ---|-----------
        6 |     1/1/90
        7 |     2/1/90
        8 |     3/1/90
        9 |     4/1/90
       10 |     5/1/90
          
    NOTE: If you only want the name of the month to be displayed in the table (as in the following example), change the number format of cells E6:E10. To do this, click Cells on the Format menu, click Custom in the Category list, and then type mmmm in the Type box. With this format, E6 is displayed as January, E7 is displayed as February, and so on.
  2. In cell F5, type the formula:
    =DSUM(Database,"Amount Sold",Criteria)
  3. In cell G5, type the formula:
    =DCOUNT(Database,,Criteria)
  4. In cell H5, type the formula:
    =DMAX(Database,"Amount Sold",Criteria)
  5. Select cells E5:H10.
  6. On the Data menu, click Table.
  7. In the Column Input Cell box, type H3.

    NOTE: Cell H2 contains the formula =MONTH(B2)=MONTH($H$3). This formula checks to see if the month in the first record of the Date field (B2) equals the month of cell H3 (cell H3 is the column input cell). The table automatically (internally) substitutes each month listed in the table (E5:E10) into cell H3, and calculates the formulas based on that month.
One-Input table with computed criteria (with formulas displayed)
================================================================

NOTE: Due to screen display limitations, the following four-column table is 
shown in two parts.

(Left two columns of a four-column table.)

      |   E    |                  F
   ---|------- |--------------------------------------
    5 |        |=DSUM(Database,"Amount Sold",Criteria)
    6 | 1/1/90 |=TABLE(,H3)
    7 | 2/1/90 |=TABLE(,H3)
    8 | 3/1/90 |=TABLE(,H3)
    9 | 4/1/90 |=TABLE(,H3)
    10| 5/1/90 |=TABLE(,H3)

(Right two columns of a four-column table.)

      |               G             |           H
   ---|-----------------------------|-------------------------------------
    5 | =DCOUNT(Database,,Criteria) |=DMAX(Database,"Amount Sold",Criteria)
    6 | =TABLE(,H3)                 |=TABLE(,H3)
    7 | =TABLE(,H3)                 |=TABLE(,H3)
    8 | =TABLE(,H3)                 |=TABLE(,H3)
    9 | =TABLE(,H3)                 |=TABLE(,H3)
    10| =TABLE(,H3)                 |=TABLE(,H3)



One-Input table with computed criteria (with values displayed)
==============================================================

      |    E    |      F      |      G      |     H
   ---|---------|-------------|-------------|----------
    5 |         | Total Amount| # of Entries| Max Entry
    6 | January |          261|            3|        94
    7 | February|          175|            3|        82
    8 | March   |          139|            3|        54
    9 | April   |          196|            3|        83
    10| May     |           77|            2|        62
    
The values displayed in cells F5:H5 are number formats. To duplicate these values, follow these steps:
  1. Select cell F5.
  2. On the Format menu, click Cells.
  3. Click the Number tab.
  4. In the Category list, click Custom.
  5. In the Type box, type "Total Amount" (with the quotation marks).
  6. Click OK.
  7. Repeat steps 1-5 with cells G5 and H5. In step 5, type the formats as "# of Entries" and "Max Entry", respectively (with the quotation marks).

In a Two-Input Table

If you want to find how many items were sold each month for each product number, you can create a two-input table from this data, as follows:
  1. Type the following data in cells E13:E17 of column E:
          |     E     
       ---|-----------
       13 |     1/1/90
       14 |     2/1/90
       15 |     3/1/90
       16 |     4/1/90
       17 |     5/1/90
          
    NOTE: If you want only the name of the month to be displayed in the table (as in the following example), change the number format of cells E13:E17 to mmmm. To do this, click Cells on the Format menu, click Custom, and then typemmmm in the Type box. With this format, E13 is displayed as January, E14 is displayed as February, and so on.
  2. Type the following product numbers in cells F12:I12 of row 12:
          |  F  |  G  |  H  |  I
       ---|-----|-----|-----|-----
       12 | 9865| 9870| 9875| 9880
       13 |
         
  3. In cell E12, type the following formula:
    =DSUM(Database,"Amount Sold",Criteria)
  4. Select cells E12:I17.
  5. On the Data menu, click Table.
  6. In the Row Input Cell box, type E2, and in the Column Input Cell box, type H3.

    NOTE: Because you want the total number of each product sold broken down by each month, leave E2 blank in the defined criteria range. E2 is the cell in the criteria range where you would type a specific product number. The table automatically (internally) substitutes each product number in the table (F12:I12) into cell E2, and calculates the formula based on that product.

    Cell H2 contains the formula =MONTH(B2)=MONTH($H$3). This formula checks to see if the month in the first record of the Date field (B2) equals the month of cell H3, which is the column input cell. Remember, the table automatically (internally) substitutes each month in the table (E13:E17) into cell H3, and calculates the formulas based on that month.
Two-Input table with computed criteria (with formulas displayed)
================================================================

Due to screen display limitations, the following five-column table is shown 
in two parts.

(Left two columns of a five-column table.)

      |                    E                   |      F
   ---|----------------------------------------|-------------
    12| =DSUM(Database,"Amount Sold",Criteria) |9865
    13| 1/1/90                                 |=TABLE(E2,H3)
    14| 2/1/90                                 |=TABLE(E2,H3)
    15| 3/1/90                                 |=TABLE(E2,H3)
    16| 4/1/90                                 |=TABLE(E2,H3)
    17| 5/1/90                                 |=TABLE(E2,H3)

(Right three columns of a five-column table.)

      |       G       |      H       |      I
   ---|---------------|--------------|-------------
    12|           9870|          9875|         9880
    13| =TABLE(E2,H3) |=TABLE(E2,H3) |=TABLE(E2,H3)
    14| =TABLE(E2,H3) |=TABLE(E2,H3) |=TABLE(E2,H3)
    15| =TABLE(E2,H3) |=TABLE(E2,H3) |=TABLE(E2,H3)
    16| =TABLE(E2,H3) |=TABLE(E2,H3) |=TABLE(E2,H3)
    17| =TABLE(E2,H3) |=TABLE(E2,H3) |=TABLE(E2,H3)


Two-Input table with computed criteria (with values displayed)
==============================================================

      |     E    |  F  |  G  |  H  |  I
   ---|----------|-----|-----|-----|----
    12|          | 9865| 9870| 9875|9880
    13| January  |   91|   94|   76|   0
    14| February |   82|   71|    0|  22
    15| March    |   35|   50|    0|  54
    16| April    |   33|    0|   80|  83
    17| May      |    0|   15|   62|   0
    

Minggu 11 2014

Cara melihat password wifi yang tersimpan di Windows7

Apabila terjadi kelupaan password wifi saat berdada di tempat free wifi sementara pernah mengaksesnya melalui netbook ato laptop yang menggunakan os windows7 dan pernah menyimpan password tersebut saat pertama kali mengaksesnya sementara menginginkan akses pada alat lain yang belum pernah menggunakan akses tersebut. Caranya adalah :

1. siapkan laptop ato netbook yang sudah menyimpan password wifi yang akan kita akses kembali (kalo lupa bawa pulang dulu deh untuk ambil dulu)
2. install pada laptop tersebut software Wirelesskeyview
3. kalo ada antivirus pilih allow untuk software tersebut.
4. eng...ing...eng... password akan muncul deh.
5. Selamat mencoba

Cara melihat password wifi yang tersimpan di HP android

saat berkunjung ke Kafe, ato tempat yang ada free wi-fi nya, meminta password ke pemilik wifi adalah keniscayaan :D. Setelah meminta password, terkoneksi dengan internet, seringnya kita lupa diri dan tidak ada keinginan untuk mencatat password tersebut. Ketika ada teman yang mau konek, pas ga ada yang punya wifi, pas kita dah lupa passwordnya, terus apa yang bisa kita lakukan? nah begini ceritanya
yang dibutuhkan :
1.  root explorer, ato pake es-explorer
2. masuk ke folder /data/misc/wifi/
3. cari file wpa_supplicant.conf, buka pake text editor
4. cari network yang sudah tersimpan, biasanya seperti ini
network={ ssid="NETWORK_NAME_HERE" psk="PASSWORD_DI_SINI" key_mgmt=WPA-PSK priority=1 }
5. klo udah dapat, di share ke temen deh
6. klo mau gampang lagi sebenernya tinggal install software wifi key recovery download dari play store (gratis)
7. selamat browsing




sumber : http://ilmubarokah.wordpress.com/2013/12/20/cara-melihat-password-wifi-yang-tersimpan-di-hp-android/

Rabu 07 2014

Cara Mengatasi Error “Tidak Dikenal Saat Pemasangan Aplikasi -24″

Cara Mengatasi Error “Tidak Dikenal Saat Pemasangan Aplikasi -24″ Pada Android –
Beberapa waktu lalu saat salah satu teman saya sedang mengunduh dan menginstall aplikasi dari Google Play Store, ada kejanggalan pada saat proses installasi aplikasi tersebut. Terdapat sebuah keterangan error yang bertuliskan “tidak dikenal saat pemasangan aplikasi -24″ pada perangkat miliknya. Ia pun bertanya kepada teman – temannya termasuk saya untuk memperbaiki masalah ini.
Masalah ini cukup asing bagi saya, mengingat saya sendiri belum pernah mengalami hal serupa. Kemungkinannya adalah perangkat yang bersangkutan tidak kompatibel dengan aplikasi yang ingin di install, karena masalah tersebut hanya terjadi pada beberapa aplikasi saja, sedangkan untuk mengunduh aplikasi lainnya tidak ada masalah. Namun saya rasa kemungkinan ini hampir tidak mungkin mengingat perangkat teman saya tersebut sudah memiliki versi Android yang cukup mutakhir yakni versi Jelly Bean (4.2)
Error tersebut biasanya disebabkan oleh adanya aplikasi yang tersangkut di HP atau tablet tersebut yang biasanya terjadi saat uninstall yang  tidak sempurna atau terjadi  auto reset pada HP tersebut.
Solusi :
  1. Install root explorer pada HP atau TAB android yang sebelumnya harus sudah di root
  2. Buka root explorer
  3. Cari direktori     data/data
  4. Cari aplikasi dengan nama yang gagal diinstall tersebut jika sudah ketemu lakukan rename dengan nama lain untuk memastikan bahwa aplikasi tersebut yang bermasalah misalnya :
“com.liputan6.com” rename menjadi “com.liputan6.c om.old
  1. Sekarang coba lalukan istall dari playstore atau dari file apk yang telah disimpan sebelumnya.
  2. Jika berhasil berarti file tadi yang menjadi biang permasalahannnya .
Cara ini sudah di uji coba oleh penulis dan berhasil dengan baik.
Mulai saat ini jangan dilakukan factory reset pada HP atau Tablet android anda jika menemukan masalah seperti ini.
Selamat mencoba

sumber : http://ishom.wordpress.com/2014/01/21/cara-mengatasi-error-24-atau-gagal-instalasi-aplikasi-android/

Minggu 04 2014

Perhatian kepada Anak

Sedikit oleh-oleh dari Seminar Parenting "Smart Parents Smart Children" yang diadakan Has Darul Ilmi 12 April 2014.

Materi yang sangat bagus untuk para orang tua yang diberikan oleh Bunda Kurnia Widhiastuti dari Sygma Parenting Community.

Tidak terasa, sebenarnya waktu kita untuk mendidik anak itu sangatlah singkat.
Saat anak sekolah ditempat jauh, saat anak waktunya kuliah di kota lain, saat ia menikah...
Sangat singkat Bunda!
Gunakanlah waktu sebaik-sebaiknya untuk menanamkan hal baik ke anak, karena tidak terasa, itu akan segera berlalu.

Waktu berharga pengasuhan anak:
7 tahun pertama (0-7 tahun):
Perlakukan anakmu sebagai raja.
Zona merah - zona larangan
jangan marah-marah, jangan banyak larangan, jangan rusak jaringan otak anak.
Pahamilah bahwa posisi anak yang masih kecil, saat itu yang berkembang otak kanannya.

7 tahun kedua (7-14 tahun):
Perlakukan anakmu sebagai atau tawanan perang.
Zona kuning - zona hati-hati dan waspada.
Latih anak-anak mandiri untuk mengurus dirinya sendiri, mencuci piring, pakaian, setrika, dll.
Banyak pelajaran berharga dalam kemandirian yang bermanfaat bagi masa depannya.

7 tahun ketiga (14-21 tahun):
Perlakukan anak seperti sahabat.
Zona hijau - sudah boleh jalan.
Anak sudah bisa dilepas untuk mandiri. Mereka sudah bisa dilepas sebagai duta keluarga.

7 tahun keempat (21-28 tahun):
Perlakukan sebagai pemimpin.
Zona biru - siap terbang.
Siapkan anak untuk menikah.

Pada masa anak-anak yang berkembang otak kanannya. Otak kiri berkembang saat usianya menjelang 7 tahun. Anak perempuan keseimbangan otak kanan dan kirinya lebih cepat. Sedangkan anak laki lebih lambat. Keseimbangan otak kanan dan kiri pada anak laki-laki baru tercapai sempurna di usia 18 tahun, sedangkan anak perempuan sudah cukup seimbang otak kanan dan kirinya di usia 7 tahun.
Ampun dah lama bener ya?
No wonder our hubby suka rada ajib. He...he....

Ternyata ada rahasia Allah mengapa diatur seperti itu.

Laki-laki dipersiapkan untuk jadi pemimpin yang tegas dalam mengambil keputusan. Untuk itu, jiwa kreatifitas dan explorasinya harus berkembang pesat. Sehingga pengalaman itu membuatnya dapat mengambil keputusan dengan tenang dan tepat.

Sementara perempuan dipersiapkan untuk jadi pengatur dan manajer yang harus penuh keteraturan dan ketelitian.

Untuk memberi intruksi pada anak, gunakan suara Ayah. Karena suaranya bas, empuk dan enak di dengar.

Kalau suara Ibu memerintah, cenderung melengking seperti biola salah gesek. Itu bisa merusak sel syaraf otak anak. 250rb sel otak anak rusak ketika dimarahin.

Solusinya, Ibu bisa menggunakan bahasa tubuh atau isyarat jika ingin memberikan instruksi.
Suara perempuan itu enak didengar jika digunakan dengan nada sedang. Cocok untuk mendongeng atau bercerita.

Cara berkomunikasi yang efektif dengan anak:
1. Merangkul pundak anak sambil ditepuk lembut.
2. Sambil mengelus tulang punggung anak hingga ke tulang ekor.
3. Sambil mengusap kepala.
Dengan sentuhan ada gelombang yang akan sampai ke otak anak sehingga sel-sel cintanya tumbuh subur.